Sunday, November 25, 2018

Laporan Lembaga pemasaran stock kedelai

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kedelai merupakan produk pangan yang sering kita jumpai di negeri kita. Betapa tidak, banyak sekali petani di Indonesia yang membudidayakannya. Jika sudah panen tentu petani akan memasarkannya. Dalam hal ini kita akan  berbicara tentang tata niaga kedelai, lebih khususnya tentang lembaga, saluran dan fungsi pemasaran pada kedelai. 
Dalam pemasaran kedelai terdapat pelaku-pelaku ekonomi yang terlibat langsung ataupun tidak dengan cara melaksanakan fungsi- fungsi pemasaran. Kualitas kedelaipun bervariasi disalurkan ke saluran- saluran tataniaga tertentu dengan harga yang bervariasi juga.

1.2  Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Pendekatan apa yang digunakan dalam permasalahan pemasaran kedelai ?
2. Bagaimana lembaga pemasaran kedelai ?
3. Bagaimana fungsi pemasaran pada kedelai ?

1.3  Tujuan
Adapun tujuan punyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Menyebutkan dan menjelaskan pendekatan yang digunakan dalam  pemasaran kedelai
2. Menjelaskan lembaga pemasaran kedelai
3. Menjelaskan fungsi pemasaran pada kedelai.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pendekatan Pemasaran Kedelai
Merupakan cara pandang terhadap suatu masalah yang ada pada komoditas kedelai, melalui  satu sisi sudut pandang tertentu sehingga menjadi lebih mudah di selesaikan. Dalam pemasaran pertanian ada lima pendekatan yaitu pendekatan komoditi, Pendekatan lembaga, pendekatan fungsi, pendekatan teori ilmu ekonomi dan pendekatan sistem.

2.1.1  Pendekatan Komoditi
Pendekatan Komoditi adalah pendekatan yang digunakan untuk menentukan komoditi yang diteliti. Dalam hal ini komoditas yang di teliti adalah kedelai. Pergerakan  kedelai dari produsen ke konsumen akhir, fakta dilapangan menunjukkan terjadinya permasalahan pada produk tersebut yaitu berupa rusaknya produk karena lamanya proses pemamaran, kesalahan penanganan pasca panen dan kontrl kualitas yang rendah.
2.1.2  Pendekatan Lembaga
Merupakan pendekatan yang digunakan untuk mencari lembaga-lembaga yang terlibat dalam proses pemasaran. Lemaga-lembaga pemasaran dapat berupa tengkulak, pedagang pengumpul, pedagang besar dan lain - lain.
2.1.3  Pendekatan Fungsi
Pendekatan yang digunakan untuk melihat apa yang dilakukan oleh lembaga pemasaran dan bagaimana sistem pemasaran di organisasikan, sehingga dapat meningkatkan guna tempat, guna bentuk, guna waktu.
Terjadinya perubahan betuk atau pengolahan kedelai menjadi tempe, merupakan contoh analisis yang menggunakan pendekatan fungsi. Ketika kedelai di proses menjadi tempe maka aka ada fungsi-fungsi yang mepengaruhi efesiensi proses pemasaran komoditas pertanian. 

2.1.4  Pendekatan Teori Ekonomi
Penekatan yang menelaah permasalahan dengan menggunakan konsep-konsep yang ada dalam teori ekonomi seperti  penawaran, permintaan, pergeseran penawaran dan permintaan, jumlah keseimbangan, harga keseimbangan dan struktur pasar.
2.1.5  Pendekatan Sistem
Pendekatan sistem dalam penelitian pertanian dapat di terapkan untuk menganalisis sistem pemasaran yang sangat sederhana sampai ke yang rumit sekali, analisisnya memerlukan penyusunan, pengujian dan penerapan model matematika yang kompleks untuk membahas sistem pemasaran kedelai. 

2.2  Lembaga Pemasaran Kedelai
Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, penyaluran jasa dan komoditi dari produsen ke konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Lembaga pemasaran bertugas menjalankan fungsi pemasaran serta memenuhi keinginan konsumen semaksimal mungkin.
Menurut penguasaannya terhadap komoditi yang di perjual belikan lembaga pemasaran dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
a. Lembaga yang tidak memiliki tetapi menguasai benda.
Contohnya agen perantara, makelar ( broker,selling broker, dan buying )
b. Lembaga yang memiliki dan menguasai komodi-komoditi pertanianyang diperjual belikan, seperti pedagang pengumpul, tengkulak, eksportir dan importir 
c. Lembaga pemasaran yang tidak memiliki dan mengusai komoditi-komoditi yang di perjual belikan. Contohnya perusahaan-perusahaan penyedia fasilitas-fasilitas transportasi, asuransi pemasaran dan perusahaan penentu kualitas produk pertanian (surveyor).


2.2.1 Lembaga Yang Terlibat Dalam  Pemasaran Kedelai
a. Tengkuak
Dia terlibat langsung berhubungan dengan petani kedelai, tengkulak bertransaksi dengan petani kedelai  dengan cara tunai, ijon, maupun kontrak pembelian.
b. Pedagang pengumpul
Dia membeli kedelai dari tengkulak untuk dijual lagi. Pedagang pengumpul disini dia akan mengangkut kedelai-kedelai yang belinya dan kemudian di kumpulkannya yang rencananya akan disalurkan ke pedagang besar.
c. Pedagang besar
Dia membeli kedelai dari sejumlah pedagang pengumpul dan mendistribusikannya lagi ke agen penjual dalam bentuk kedelai atau olahannya. Saat kedelai sudah sampai di tangan pedagang besar maka akan melibakatkan lembaga pemasaran lainnya, seperti perusahaan pengangkutan, perudahaan pengolahan  dan perusahaan asuransi. Perusahaan pengangkutan berperan  mengangkut kedelai ke tempat tujuan. Perusahaan pengolahan berperan mengolah kedelai menjadi tempe, tahu, kecap, daging tiruan, susu kedelai dll.
d. Agen penjualan
Agen menerima kedelai dari pedagang besar dalam bentuk kedelai ataupun olahannya seperti tahu, tempe, kecap, daging tiruan, dll
e. Pengecer
Merupakan lembaga pemasaran yang berubungan langsung dengan konsumen dan menjadi ujung tombak dari produksi yang bersifat komersiil. Betapa tidak, jika kedelai atau produk olahan kedelai terhenti di pengecer karena permintaan konsumen berkurang apalagi sampai hilang permintaan konsumen maka untuk selanjutnya si pengecer tidak mau lagi menjadi pengecer pada produk tersebut atau kalaupun mau palingan si pengecer mau mengambil produk tersebut dari agen penjual dalam jumlah yang sedikit dibandingkan sebelumnya. Ini berlanjut sampai pada kepada agen penjual, yang mana agen penjual akan mengambil barang dari pedang besar dalam jumlah sedikit dan seterusnya sampai pada tengkulak dan petani.

Hal ini dapat dilihat pada kasus produk olahan dari kedalai berupa daging tiruan pada era krisis moneter 1997/1998 dan sesudahnya. Saat era krisis moneter permintaan daging tiruan meningkat dibandingkan sesudah era itu karena daging di subsitusikan ke daging tiruan sebab harga daging mahal. Jadi pada era itu banyak pengecer yang menjual daging tiruan namun saat era krisis monter telah berlalu dan ekomoni perlahan membaik maka permintaan daging tiruan mulai berkurang. Pengecer produk inipun berkurang dan berujung pada pengurangan produksi daging tiruan oleh perusahaan pengolah kedelai.
Lembaga pemasaran menyampaikan komoditas kedelai dari produsen berhubungan satu sama lain yang membentuk jaringan pemasaran dengan membentuk suatu pola. Pergerakan arus yang di ciptakan  oleh jaringan tersebut pada kedelai tersebu membentuk sistem pemasaran.

2.3  Saluran Pemasaran Kedelai
Saluran pemasaran kedelai yaitu arah dari penyaluran kedelai oleh lembaga pemasaran. Ada banyak sekali saluran pemasaran kedelai yang dapat kita temui di lapangan antara lain :
Produsen (petani) à Tengkulak à Pedagang Pegumpulà Pedagang Besar à Agen Penjual à Pengecer à Konsumen.
Produsen (petani) àPedagang Pengumpul à Pedagang Besar à Agen Penjual à Pengecer à Konsumen.
Produsen (petani) à Pedagang Pegumpulà Pengecer à Konsumen.
Produsen (petani) à Konsumen.
Produsen (petani) à Tengkulak à Pedagang Pegumpulà Pedagang Besar à Eksportir à Agen Penjualà Pengecer à  Konsumen.
Produsen (petani) à Tengkulak à Pedagang Pegumpulà Pedagang Besar à Broker à Pengecer à Konsumen.

Panjang pendeknya rantai pemasaran tomat, sangat berpengaruh terhadap harga di tingkat konsumen. Karena tiap lembaga pemasaran akan mengambil keuntungan dari tomat yang dijualnya, sehingga semakin panjang rantai pemasarannya maka harga tomat juga akan melambung.

2.4  Fungsi – Fungsi Pemasaran Kedelai
Pada aliran saluran pemasaran kedelai terdapat adanya peningkatan nilai guna karena adanya lembaga - lembaga pemasaran melakasanakan fungsi-fungsi pemasaran terhadap kedelai, contohnya terjadinya pengolahan kedelai menjadi produk yang bernilai ekonomi lebih (tempe, tahu, kecap, daging tiruan, susu kedelai).

Ada tiga tipe fungsi pemasaran, yaitu:
a. Fungsi Pertukaran
Dalam fungsi ini terjadinya pemindahan hak kepemilikan yang awalnya kedelai milik produsen kemudian adanya transaksi jual beli ke konsumen, kedelai pun berpindah hak kepemilikan ke konsumen.  

b. Fungsi Fisik
Fungsi fisik meliputi kegiatan kegiatan yang secara langsung dilakukan pada kedelai, sehingga terjadi penambahan nilai guna pada kedelai tersebut. Contohnya pengangkutan, ketika kedelai di tangan petani di desa dan kedelai itu melimpah ruah (paenen raya)  harganya murah namun, ketika kedelai itu didistribusikan ke kota-kota besar dengan menjaga kualitasnya maka harganya menjadi lebih mahal.

c. Fungsi Penyedia Fasilitas
Fungsi ini untuk memperlancar fungsi fisik dan fungsi pertukaran ada pemasaran kedelai dengan memberikan fasilitas yang sekiranya dapat memperbaiki sistem pemasaran. Contohnya penetapan grading pada kedelai, hanya kedelai yang warna fisiknya putih bersih yang akan jadikan atau di proses menjadi susu kedelai. Atau contohnya lagi hanya kedelai dengan kualitas prima yang akan di ekspor ke Singapura dan kedelai  berkualitas rendah akan di jual ke pasar lokal.
Untuk pembuatan kecap perlu juga dilakukan grading contohnya hanya kedelai hitam yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan kecap.   





BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Dari uraian yang ada di atas dapat disimpulkan bahwa pemasaran produk dari pertanian memiliki pola >< (berlawanan) karena tengkulak membeli kedelai dari petani yang tersebar di berbagai tempat lalu didistribusikan ke pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul membeli dan mengumpulkan kedelai semua kedelai dari tengkulak. Jadi semua kedelai terkonsentrasi atau terkumpul pada pedagang pengumpul yang natinya akan di sebarkan lagi ke pedagang besar dalam berbagai bentuk, dan juga ke agen penjualan beserta pengecer yang tentunya berhubungan langsung dengan konsumen.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1988. Anjuran Pemupukan Tanaman Kedelai Liptan, BIP. Jawa Timur: Departemen Pertanian. No. 13 tahun 1988.
______. 1980. Kedela: Seri Pembangunan Desa. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
______. 1974. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta : Bhratara Karya Aksara.
_______. 1989. Kedelai. Jakarta: Pusat Penelitian Hortikultura Pasar Minggu.
Lembaga Biologi Nasional, Manfaat Kedelai, 12 April 1989.
Mudjiman, L. 1987. Pemasaran Tanaman Kedelai dan Permasalahannya. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rukmana Rahmat. 1996. Kedelai Budidaya dan Pasca Panen. Jakarta: kannisius.

LAMPIRAN

Saturday, November 24, 2018

Praktikum tentang sapi bunting

LAPORAN
MANAJEMEN KESEHATAN TERNAK RUMINANSIA
SAPI BUNTING



NAMA : Noval alfarizi
NIM : B0D.016.040


D3  AGRIBISNIS KONSENTRASI KESWAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan praktikum ini tepat pada waktunya. Terimakasih kami ucapkan kepada pembina pelajaran MANAJEMEN KESEHATAN TERNAK RUMINANSIA Drh Baiq Erni Nurhidayati,M.Si yang telah membantu kami selama praktikum dan pembelajaran.Semoga penyusunan laporan ini dapat memenuhi harapan kita semua dan bermanfaat sehingga menambah ilmu pengetahuan. Jika ada salah dalam penyusunan laporan ini kami mohon agar memberikan kritik agar penyusunan laporan selanjutnya lebih baik lagi.




Mataram, 25 oktober  2018







BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Periode kebuntingan dimulai dengan pembuahan dan berakhir dengan kelahiran anak yang hidup. Peleburan spermatozoa dengan ovum mengawali reaksi kimia dan fisika yang majemuk, bermula dari sebuah sel tunggal, yang mengalami peristiwa pembelahan diri yang berantai dan terus menerus selama hidup individu tersebut tetapi berbeda dalam kadar dan derajatnya sewaktu hewan menjadi dewasa dan menjadi tua. Sesudah pembuahan, yang mengembalikan jumlah kromosom yang sempurna, pembelahan sel selanjutnya bersifat mitotik sehingga anak-anak sel hasil pembelahannya mempunyai kromosom yang sama dengan induk selnya. Peristiwa ini berlangsung sampai hewan menghasilkan sel kelamin (Marawali, 2010).
Pertumbuhan dan perkembangan individu baru selama kebuntingan merupakan hasil dari perbanyakan jumlah sel, pertumbuhan, p  erubahan susunan serta fungsi sel. Peristiwa tadi mempengaruhi perubahan-perubahan tertentu, beberapa di antaranya merupakan ciri dari tahap perkembangannya. Meskipun perkembangan anak dalam kandungan berlangsung terus menerus, namun kebuntuingan kadang-kadang dinyatakan terdiri dari 3 tahap yaitu periode ovum, periode embrio dan periode Fetus (Marawali, 2010).
Berdasarkan perihal tersebut maka dilakukanlah praktikum ini agar mahasiswa dapat mengetahui bagaimana tata cara dalam melakukan Palpasi rektal atau mendeteksi kebuntingan dengan baik dan benar pada ternak khususnya pada sapi.
1.2   Tujuan
Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah untuk mengetahui perkembangan kebuntingan pada sapi betina dan hormon-hrmon yang berperan saat kebuntingan.
1.3. Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini dapat menjadi salah satu sumber bacaan mengenai perkembangan kebuntingan pada sapi dan hormon-hormon apa saja yang berperan.


BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA

Kebuntingan berarti keadaan dimana anak sedang berkembang di dalam Uterus seekor hewan betina. Suatu interval waktu, yang disebut periode kebuntingan (Gestasi), dimulai dari saat pembuahan (Fertilisasi) Ovum, sampai lahirnya anak. Hal ini mencakup Fertilisasi, atau persatuan antara Ovum dan Sperma. Nidasi atau Implantasi, atau perkembangan membran Fetus dan berlanjut ke pertumbuhan Fetus (Frandson, 2013).
Pertumbuhan makhluk baru yang terbentuk sebagai hasil pembuahan Ovum oleh Spermatozoa dapat dibagi menjadi 3 periode, yaitu: periode Ovum, periode Embrio dan periode Fetus. Periode  Ovum adalah periode yang dimulai dari Fertilisasi sampai Implantasi, sedang periode Embrio dimulai dari Implantasi sampai saat dimulainya pembentukan alat-alat tubuh bagian dalam. Periode ini disambung oleh periode Fetus. Jadi periode Fetus adalah periode yang terakhir; dimulai dari terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam, terbentuknya Ekstremitas, sampai lahir. Dari sejak Fertilisasi, Implantasi sampai terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam disebut periode Embrio; selanjutnya periode Fetus. Seluruh penghidupan makhluk baru dalam Uterus disebut periode Embrio (Partodihardjo, 2011).
Selang empat hari sesudah Ovum dibuahi Zigot melewati tuba Falopi menuju ke Uterus dimana ia bergerak bebas melayang selama 8-9 hari. Kebuntingan tahap pertama ini disebut periode Ovum. Selama itu Zigot memperoleh makanannya dari bekal yang dibawa oleh ovum dan menyerap makanan yang berada di Tuba falopi dan Uterus. Zigot berekembang dari sebuah sel menjadi beberapa sel, sambil sedikit demi sedikit membentuk semacam bola yang berlubang di dalamnya dan disebut Blastula (Hunter, 2010).




BAB III
METODE PRAKTIKUM
2.1 waktu dan tempat
A. Waktu dan tempat
Lokasi  : jl sandik, desa tato, batu layar Lombok barat
Waktu dan tempat,  jam 10-selesai pada tanggal 25 oktober 2018
B. Alat
Spet
Kandang jepit
C. Bahan
Vitamin B kompleks
D. Metode praktikum
Bawa sapi ke kandang jepit lalu suntikan vitamin B kompleks pada bagian leher dengan dosis 5ml









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1  Hasil
Ternak
Umur sapi :  3 tahun
Umur kebuntingan : 8 bulan
Jenis sapi :
Kasus : kebuntingan
( gambar sapi bunting)

3.2  Pembahasan
a) Kebuntingan
Satu periode kebuntingan adalah periode dari mulai terjadinya fertilisasi sampai terjadinya kelahiran normal (Soebandi, 1981) sedangkan menurut Frandson (1992) menyatakan kebuntingan berarti keadaan anak sedang berkembang didalam uterus seekor hewan. Dalam penghidupan peternak,periode kebuntingan pada umumnya dihitung mulai dari perkawinan yang terakhir sampai terjadinya kelahiran anak secara normal.
Periode kebuntingan dimulai dengan pembuahan dan berakhir dengan kelahiran anak yang hidup. Peleburan spermatozoa dengan ovum mengawali reaksi kimia dan fisika yang majemuk, bermula dari sebuah sel tunggal yang mengalami peristwa pembelahan diri yang berantai dan terus menerus selama hidup individu tersebut. Tetapi berbeda dalam keadaan dan derajatnya sewaktu hewan itu menjadi dewasa dan menjadi tua. Setelah pembuahan , yang mengembalikan jumlah kromosom yang sempurna, pembelahan sel selanjutnya bersifat mitotik sehingga anak-anak sel hasil pembelahannya mempunyai kromosom yang sama dengan induk selnya. Peristiwa ini berlangsung sampai hewan menghasilkan sel kelamin.
Pertumbuhan makhluk baru terbentuk sebagai hasil pembuahan ovum oleh spermatozoa dapat dibagi menjadi 3 periode, yaitu: periode ovum,periode embrio dan periode fetus. Periode ovum dimulai dari terjadinya fertilisasi sampai terjadinya implantasi,sedang periode embrio dimulai dari implantasi sampai saat dimulainya pembentukan alat alat tubuh bagian dalam. Periode ini disambung oleh periode fetus. Lamanya periode kebuntingan untuk tiap spesies berbeda-beda perbedaan tersebut disebabkan faktor genetik, dan menurut beberapa ahli yaitu;
Menurut Frandsion (1992) menyatakan bahwa Periode kebuntingan pada pada kuda 336 hari atau sekitar sebelas bulan; sapi 282 hari atau sembilan bulan lebih sedikit; domba 150 hari atau 5 bulan; babi 114 hari atau 3 bulan 3 minggu dan 3 hari dan anjing 63 hari atau sekitar 2 bulan.
Menurut Salisbury (1985) periode kebuntingan pada semua bangsa sapi perah berlangsung 278-284 hari kecuali brown swiss rata-rata 190 hari.
Perubahan alat kelamin betina selama kebuntingan berlangsung
Menurut Partodiharjo (1982) hewan yang mengalami masa kebuntingan akan menunjukan perubahan bagian-bagian tertentu sebagai berikut:
1. Vulva dan vagina
Setelah kebuntingan berumur 6 sampai 7 bualan pada sapi dara akan terlihat adanya edema pada vulvanya. Semakin tua buntingnya semakin jelas edema vulva ini. Pada sapi yang telah beranak, edema vulva baru akan terlihat setelah kebuntingan mencapai 8,5 sampai 9 bulan.
2. Serviks
Segera setelah terjadi fertilisasi perubahan terjadi pada kelenjar-kelenjar serviks. Kripta-kripta menghasilkan lendir yang kental semalin tua umur kebuntingan maka semakin kental lendir tersebut.
3. Uterus
Perubahan pada uterus yang pertama terjadinya vaskularisasi pada endomertium, terbentuk lebih banyak kelenjar endometrium, sedangkan kelenjar yang telah ada tumbuh lebih panjang dan berkelok-kelok seperti spiral.
4. Cairan Amnion dan Allantois
Volume cairan amnion dan allantois selama kebuntingan juga mengalami perubahan. Perubahan yang pertama adalah volumenya, dari sedikit menjadi banyak; kedua dari perbandingannya. Hampir semua spesies, cairan amnion menjadi lebih banyak dari pada volume cairan allantois, tetapi pada akhir kebuntinan cairan allantois menjadi lebih banyak.
5. Perubahan pada ovarium
Setelah ovulasi, terjadilah kawah bekas folikel. Kawah ini segera dipenuhi oleh darah yang dengan cepat membeku yang disebut corpus hemorrhagicum. Pada hari ke 5 sampai ke-6 korpus luteum telah terbentuk.
b) Hormone yang berperan saat kebuntingan.
Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH)
Kadar hormone ini menurut para peneliti lebih tinggi pada saat sapi bunting daripada saat tidak bunting. Lebih tepatnya saat awal kebuntingan kadar hormone ini meningkat. Hormone ini mengalami penurunan dari kelenjar hipofisa disebabkan naiknya kadar esterogen yang menghambat pembentukan hormone tersebut.
GnRH merupakan suatu dekadeptida (10 asam amino) dengan berat molekul 1183 dalton. Hormon ini menstimulasi sekresi follicle stimulating hormon (FSH) dan Lutinizing Hormone (LH) dari hipofisis anterior (Salisbury dan vandemark, 1985). Pemberian GnRH meningkatkan FSH dan LH dalam sirkulasi darah selama 2 sampai 4 jam (Chenault dkk., 1990).
Secara alamiah, terjadinya level tertinggi (surge) LH yang menyebabkan ovulasi merupakan hasil kontrol umpan balik positif dari sekresi estrogen dari folikel yang sedang berkembang. Berikut ini adalah mekanisme kerja GnRH. Hipotalamus akan mensekresi GnRH, kemudian GnRH akan menstimulasi hipofisis anterior untuk mensekresi FSH dan LH. FSH bekerja pada tahap awal perkembangan folikel dan dibutuhkan untuk pembentukan folikel antrum.
FSH dan LH merangsang folikel ovarium untuk mensekresikan estrogen. Menjelang waktu ovulasi konsentrasi hormon estrohen mencapai suatu tingkatan yang cukup tinggi untuk menekan produksi FSH dan dengan pelepasan LH menyebabkan terjadinya ovulasi dengan menggertak pemecahan dinding folikel dan pelepasan ovum. Setelah ovulasi maka akan terbentuk korpus luteum dan ketika tidak bunting maka PGF2α dari uterus akan melisiskan korpus luteum. Tetapi jika terjadi kebuntingan maka korpus luteum akan terus dipertahankan supaya konsentrasi progesteron tetap tinggi untuk menjaga kebuntingan (Adnan dan Ramdja, 1986).
Esterogen.
Pada awal kebuntingan hormone ini sedikit kemudian kadarnya mulai naik pada saat umur kebuntintingan mulai tua. Pada usia kebuntingan 4 bulan akhir sapi akan mengekskresikan 10 X lipat hormone esterogon didalam air seninya dibanding sesudah melahirkan.
Progesterone.
Hormone ini mempunyai peranan palaing penting dan dominant dalam berperan mempertahankan kebuntingan. Kadar hormone yang meningkat menyebabkan berhentinya kerja hormone lain serta menyebabkan berhentinya siklus estrus dengan mencegahnya hormone gonadotrophin-gonadotrophin. Progesteron dihasilkan di corpus luteum dan plasenta. Apabila sekresi hormon ini berhenti pada setia kebuntingan akan berakhir selama beberapa hari.
Progesteron penting selama kebuntingan terutama pada tahap-tahap awal. Apabila dalam uterus tidak terdapat embrio pada hari ke 11 sampai 13 pada babi serta pada hari ke 15 – 17 pada domba, maka PGF2α akan dikeluarkan dari endometrium dan disalurkan melalui pola sirkulasi ke ovarium yang dapat menyebabkan regresinya corpus luteum (Bearden and Fuquay, 2000). Apabila PGF2α diinjeksikan pada awal kebuntingan , maka kebuntingan tersebut akan berakhir.

Progesteron dapat digunakan sebagai test kebuntingan karena CL hadir selama awal kebuntingan pada semua spesies ternak. Level progesteron dapat diukur dalam cairan biologis seperti darah dan susu , kadarnya menurun pada hewan yang tidak bunting. Progesteron rendah pada saat tidak bunting dan tinggi pada hewan yang bunting
Test pada susu lebih dianjurkan dari pada test pada darah, karena kadar
progesteron lebih tinggi dalam susu daripada dalam plasma darah. Lagi pula sample susu mudah didapat saat memerah tanpa menimbulkan stress pada ternaknya. Sample susu ditest menggunakan radio immuno assay (RIA). Sample ini dikoleksi pada hari ke 22 – 24 setelah inseminasi. Teknik koleksi sample bervariasi namun lebih banyak diambil dari pemerahan sore hari. Bahan preservasi seperti potasium dichromate atau mercuris chloride ditambahkan untuk menghindari susu menjadi basi selama transportasi ke laboratorium.
Metoda ini cukup akurat, tetapi relatif mahal, membutuhkan fasilitas laboratorium dan hasilnya harus menunggu beberapa hari. ”Kit” progesteron susu sudah banyak digunakan secara komersial di peternakan-peternakan dan dapat mengatasi problem yang disebabkan oleh penggunaan RIA yaitu antara lain karena keamanan penanganan dan disposal radioaktivnya.. Test dapat dilakukan baik dengan enzyme-linked immuno assay (ELISA) maupun latex aggluination assay.














BAB IV
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Ternak yang mengalami kebuntingan akan memperlihatkan tanda –tanda yang dapat kita lihat secara kasat mata atau pun perubahan organ-organ reproduksi seperti adanya perubahan serviks, uterus, cairan amnion dan allantois serta ovarium.
Metode Pemeriksaan kebuntingan pada ternak ada bermacam-macam dan spesifik bagi ternaknya namun ada satu uji yang dapat digunakan oleh ternak secara umum.
3.2. Saran
Pemberian pakan harus benar karna akan meningkatkan produksi hormon,  karna hormon mengandung zat-zat makanan (karbohidrat, protein, lemak, vitamin).
Infosehat ca-app-pub-8789008695970309/3855418177




Cara pembuatan pakan konsentrat dari limbah pertanian

KATA PENGANTAR
      Puji syukur kepada tuhan yang maha esa  atas segala rahmatnya  sehingga laporan ini dapat tersusun hingga selesai, tida lupa kami juga mengucapkan terimaksi banyak atas bantuan ari pihak yang telah berkontrobusi dengan memberikan sumbangna baik materi maupun pikirannya.
     Dan harapan kami semoga laporan ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman  bagi para pembaca, untuk kedepanya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi laporan agar menjadi lebih baik lagi.
    Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalamankami, kami yang masih banyak kekurangan dalam laporan ini, oleh karna itu kami sangat mengharapkan keritik dan saran yang membangu  dari pembaca demikesempurnaan laporan ini. 



















BAB I

   PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Salah satu ternak yang cukup berpotensi sebagai sumber pupuk organik adalah sapi. Seekor sapi mampu menghasilkan kotoran padat dan cair sebanyak 23,6 kg/hari dan 9,1 kg/hari. Berdasarkan hasil penelitian, setiap petani rata-rata memiliki 6 – 7 ekor. Rata-rata setiap ekor ternak memerlukan pakan hijau segar 5,35 kg/hari atau 33,3 kg/peternak. Berdasarkan hasil perhitungan, dari jumlah pakan yang dikonsumsi tersebut 4 kg akan dikeluarkan sebagai feses (berat kering feses 45%) per hari per 6 ekor sapi. Selain itu sisa pakan hijauan yang terbuang berkisar 40 – 50% atau sekitar 14,2 kg. Dengan demikian, feses dan sisa hijauan yang dapat dikumpulkan setiap hari sebagai bahan pupuk kandang mencapai 18,2 kg untuk 6 ekor sapi (Setiawan, 2002).
Menurut Prihandini dan purwanto (2007), kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang. Proses dan pemanfaatan kompos dirasa masih perlu ditingkatkan agar dapat dimanfaatkan secara efektif, menambah pendapatan peternak dan mengatasi pencemaran lingkungan.
Kotoran sapi yang tersusun dari feses, urin, dan sisa pakan mengandung nitrogen yang lebih tinggi dari pada yang hanya berasal dari feses. Jumlah nitrogen yang dapat diperoleh dari kotoran sapi dengan total bobot badan ± l20 kg (6 ekor sapi dewasa) dengan periode pengumpulan kotoran selama tiga bulan sekali mencapai 7,4 kg. Jumlah ini dapat disetarakan dengan 16,2 kg urea (46 % nitrogen) (Setiawan, 2002).
Menurut pendapat Rahayu et a1l., (2007), kotoran yang baru dihasilkan sapi tidak dapat langsung diberikan sebagai pupuk tanaman, tetapi harus mengalami proses pengomposan terlebih dahulu. Beberapa alasan mengapa bahan organik seperti kotoran sapi perlu dikomposkan sebelum dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman antara lain adalah: 
1) bila tanah mengandung cukup udara dan air, penguraian bahan organik berlangsung cepat sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
2) penguraian bahan segar hanya sedikit sekali memasok humus dan unsur hara ke dalam tanah
3) struktur bahan organik segar sangat kasar dan daya ikatnya terhadap air kecil, sehingga bila langsung dibenamkan akan mengakibatkan tanah menjadi sangat remah
4) kotoran sapi tidak selalu tersedia pada saat keperluan, sehingga pembuatan kompos merupakan cara penyimpanan bahan organik sebelum digunakan sebagai pupuk.
Menurut Prihandini & Purwanto (2007) proses pengomposan adalah proses menurunkan C/N bahan organik hingga sama dengan C/N tanah (< 20). Selama proses pengomposan, terjadi perubahan unsur kimia yaitu : 1) karbohidrat, selulosa, hemiselulosa, lemak dan lilin menjadi CO2 dan H2O, 2) penguraian senyawa organik menjadi senyawa yang dapat diserap tanarnan.
Menurut Indriani (2012), bahan yang berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses pengomposannya karena semakin luas bahan yang tersentuh dengan bakteri. Oleh karena itu untuk mempercepat proses tersebut ukuran, bahan perlu diperkecil dengan cara dipotong atau dicacah. Pada dekomposisi aerob, oksigen harus cukup tersedia di dalam tumpukan. Apabila kekurangan oksigen, proses dekomposisi tidak dapat berjalan. Agar tidak kekurangan oksigen, tumpukan kompos harus dibalik minimum seminggu sekali.
Menurut pendapat Murbandono (2000), kelembaban di dalam timbunan kompos harus dijaga, karena kelembaban yang tinggi (bahan dalam keadaan becek) akan mengakibatkan volume udara menjadi berkurang. Semakin basah timbunan bahan maka kegiatan mengaduk harus makin sering dilakukan. Dengan demikian, volume udara terjaga stabilitasnya dan pembiakan bakteri anaerob bisa dicegah. Menjaga kestabilan suhu pada suhu ideal 40 - 500C amat penting dalam pembuatan kompos. Suhu yang kurang akan menyebabkan bakteri pengurai tidak bisa berkembangbiak atau bekerja secara wajar. Suhu yang terlalu tinggi bisa membunuh bakteri pengurai. Adapun kondisi yang kekurangan udara dapat memacu perrumbuhan bakteri anaerob.












1.2.      Tujuan 
1.            Dapat mengetahui proses pembuatan kompos dari kotoran sapi di Kelompok Tani 
2.            Dapat mengembangkan materi-materi dasar yang telah dipelajari dari perkuliahan

1.3.      Manfaat
Adapun manfaat di laksanakan Praktek Kerja Lapang ini adalah:
1.            Meningkatkan kualitas mahasiswa dalam mempelajari teknik pembuatan kompos kotoran sapi dengan praktek langsung dilapangan
2.            Mahasiswa mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh selama perkuliahan
3.            Menciptakan hubungan social dan interaksi positif antara mahasiswa dengan Kelompok Tani 














BAB  II
MATERI DAN METODE PRAKTIKUM
Waktu dan tempat praktikum
          Praktikum pengolahan limbah dilaksanakan pada hari kamis tanggal 29 maret 2018,pukul 13:00-selesai,dan kemudian di lanjutankan dengan melakukan pengamatan pertama pada hari kamis tanggal  5 april 2018 pukul 10:30-selesai,dan pada hari kamis berikut nya pada tangal  12 april 2018 pukul 10:30-selesai.praktikum ini dilaksakan di teaching farm universitas mataram yang berada di desa lingsar kec lingsar kab.lombok barat.
Materi praktikum
1. Alat Dan Bahan

a. Alat Praktikum
Ember
Sekop
Karung
Timbangan
Archo

b. Bahan Praktikum
feses sapi sebanyak 55% atau 27,5 kg
sisa pakan sebanyak 40% atau 20 kg
kapur sebanyak 4,5% atau 2,45 kg
EM-4 sebanyak 0,01% atau 5 ml
Molases sebanyak 0,09% ataau 45 ml

Metode Praktikum

Pembuatan pupuk organik
siapkan alat dan bahan
hitung masing-masing bahan yang akan digunakan(kg)
timbang semua bahan yang akan digunakan(feses sapi,sisa pakan,kapur,EM-4 dan molases)
setelah semua bahan sudah ditimbang kemudian campur feses dengan sisa pakan kemudian taburkan kapur sampai merata
campur EM-4,molases dan air secukup nya
selanjut nya percikan larutan diatas feses sapi yang sudah bercampur dengan sisa pakan dan kapur
terakhir aduk sampai benar-benar rata,dan campuran tersebut ditutup rapat jangan sampai ada udara yang masuk



BAB III
HASIL DAN PEMBAHSAN
HASIL PRAKTIKUM

Hasil pembuatan pupuk organik
Penyimpanan setalah 1 minggu sbb :
No Kriteria Keterangan
1 Aroma Berbau khas kotoran sapi,tetapi tidak berbau menyengat
2 Warna Hitam kecoklatan
3 Suhu Sedikit panas saat dibuka 
4 tekstur Lembab,sedikit berjamur,dan berembun

Penyimpanan setelah 2 minggu sbb :
No Kriteria Keterangan
1 Aroma Berbau khas kotoran sapi,tetapi tidak menyengat atau keras seperti pada minggu pertama
2 Warna Coklat
3 Suhu Tidak terlalu panas
4 Tekstur Lembab,dan sedikit berjamur

Penyimpanan setelah 3 minggu sbb :
No Kriteria Keterangan
1 Aroma Sudah tidak berbau kotoran sapi lagi,melainkan berbau seperti tanah
2 Warna Coklat kehitaman
3 Suhu Tidak panas
4 Tekstur Lembab,lapuk dan gersang









Pembahasan Hasil Pratikum
     Pupuk organik adalah pupu yang tersusun dari materi mahluk yang hidup yamg diolah melalui proses pembusukan (dekompesisi) oleh bakteri penguraian seperti pelapukan sisa sisa tanaman, hewan dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat dan cair yang digunkan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologis tanah. Pupuk organik akan dapat banyak memberikan keuntungan karna bahan dasar pupuk organik berasal dari limbah pertanian seperti jerami dan sekam, sekam padi kulit kacang tanah, ampas tebu,belotong,batang jagung dan bahan hijaun lainya. Sedangkan kotoran ternak yang banyak dimanfaatkan adalah peses sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan babi.
Dari hasil tabel diatas dengan pembahasan pembuatan pupuk organik beberapakali mengamati hasilnya 3 kali pengamatan, hasil pengamatan pertama  ditabel tersebut kami mendapatkan hasil dengan penyimpanan 1 minggu dan hasilnya
Aroma  : berbau khas kotoran tapi tidak terlalu menyengat
Warna : hitam kecolatan
Suhu   : panas saat dibuka ( tidak terlalu panas)
Tekstur : lembab,sedikit berjamur
Hasil inilah yang kami dapatkan dari pengamatan minggu pertama
Dari hasil tabel 1 diatas  untuk minggu yang kedua atau penimpananyang kedua kami mendapatkan hasil
Aroma : berbau khas kotoran tapi  tidak menyengat seperti minggu yang pertama
Warna : coklat
Suhu : tidak terlalu panas
Tekstur :  lembab dan sedikit berjamur
Hasil inilah yang kami dapatkan dari minggu kedua
Dan  hasil untuk minggu ke tiga  kami mendapatkan hasil 
Aroma : berbau khas pupuk tidak berbau khas kotoran
Warna : coklat kehitaman
Suhu : tidak paanas
Tekstur : tidak mengumpal dan lembut




BAB IV

 PENUTUP

       Kesimpulan
Kotoran sapi yang tersusun dari feses dan urin adalah sumber pupuk organik yang cukup berpotensi. Namun dalam penggunaannya tidak dapat langsung diberikan pada tanaman, tetapi harus mengalami proses pengomposan terlebih dahulu. Dimana pengomposan adalah suatu proses biologis dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah material organik seperti kotoran ternak, sampah, daun, kertas, dan sisa makanan menjadi material seperti tanah yang disebut kompos. Bahan yang terbentuk mempunyai berat volume yang lebih rendah dari pada bahan dasarnya, stabil, dekomposisi lambat dan sumber pupuk organik.
Dalam proses pengomposan ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, antara lain bahan baku, ukuran partikel, aerasi, porositas, kelembaban, suhu dan pH. Selain itu, teknologi pengomposan juga perlu dilakukan agar proses pengomposan dapat berjalan lebih cepat, lebih baik dan menghasilkan produk kompos yang berkualitas baik.

6.2.       Saran
Proses pengomposan sebaiknya bahan diendapkan hingga mencapai kadar air yang cukup rendah dan dalam pencampuran bahan-bahan harus benar-benar rata dengan diiringi pembalikan yang teratur. Selain itu, tumpukan kompos yang terlalu tebal juga merupakan penyebab lamanya proses pematangan di tambah lagi keadaan rumah kompos yang kurang baik sehingga bila turun hujan air masuk kedalam tumpukan kompos, maka dengan itu renovasi rumah kompos sebaiknya dilakukan.












Laporan praktikum ayam pejantan

"LAPORAN PRAKTIKUM AYAM PEJANTAN"
BAB I
 PENDAHULUAN 
 1.1 Latar Belakang Ayam pejantan merupakan sejenis dengan ayam petelur tetapi ayam pejantan ini merupakan ayam afkir/ limbah sortilan dari hasil produksi jenis ayam petelur dari sebelum tahun 1980 an. Ayam pejantan ini awalnya dari telur ayam yang berumur 1 hari. DOC atau anak ayam baru menetas ini disortir dan dipisahkan menjadi ayam petelur dan ayam bukan petelur (ayam pejantan) yan bukan merupakan ayam petelur atau biasa disebut dengan ayam pejantan ini kemudian di afkir lalu di musnahkan begitu saja, karena pada jaman ayam pejantan ini tidak di budidayakan seperti padam sekarang. Pada jama sekarang ayam pejantan dicoba untuk dibudidayakan atau dibesarkan untuk dijual dagingnya. Walaupun ayam pejantan ini memilikipostur badan yang relatif kurus tetapi memiliki tektur daging yang lebih padat berisi, lebih legit dan rendah lemak pada tahun 1980 an hingga menjelang tahun 1990 an ayam afkiran dari ayam petelur ini mulai populer dikalangan masyarakat karena selain penganti ayam kampung, ayam juga mudah di budidayakannya dengan jangkawaktu yang relatif sinkat dibanding denganjangka waktu antara 7-8 minggu dengan bobot badan 0,6-0,7 kg. Jadi disinilah awal mulanya ayam pejantan ini menjadi sangat terkenal dan banyak juga masyarakat yang suka dengan daging ayam pejantan.
 1.2 Rumusan masalah
 a. Bagaiman sistem pemeliharaan ayam pejantan b. Bagaimana sistem perkandangan c. Pakan apa saja yang diberikan pada ayam pejantan d. Penyakit yang sering menyerang pada ayam pejantan dan cara penangananya.
1.2 Tujuan praktium
 Adapun tujuan dilakukanya praktikum ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara beternak ayam pejantan, baik dari sistem pemeliharaan, kandang, konsumsi ransum dan pengendalian dan pencegahan penyakit.
1.3 Manfaat praktikum
 Hasil praktikum ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai bahan informasi kepada mahasiswa tentang bangaimana cara beternak ayam pejantan yang baik dan benar sehingga mendapatkan hasil yang baik. Jika ingin memulai usaha ayam pejantan. 

 BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA 
2.1 Ayam pejantan Ayam pejantan dapat dijadikan sebagai ayam pedaging, hal ini dikarenakan produktivitas yang tinggi. Pengelolaan ayam pejantan pedaging membutuhkan perhatian khusus mulai dari pakan yang diberikan, beserta pengendalian penyakit. Untuk mendapatkan produksi daging yang maksimal pakan harus sangat diperhatikan. Pemberian pakan untuk ayam pejantan membutuhkan protein yang lebih banyak dibandingkan dengan ayam pejantan karena protein dibutuhkan dalam pembentukan daging, oleh karena itu jenis pakan yang diberikan harus dapat memenuhi jumlah protein yang dibutuhkan untuk pembentukan daging. Salah satu jenis pakan yang diberikan ialah jagung karena jagung mengandung protein sebesar 8,5%. Jagung juga mengandung lemak sebesar 3,5% yang terdapat pda lembaga bijinya. Lemak pada jagung ini terdapat juga sebagai penggemuk ternak khususnya ayam. Jagung juga mengandung serat kasar yang rendah sehingga cocok untuk pakan, dan mengandung pati yang tinggi, jagung juga mempunyai daya kecernaan yang tinggi sehingga mempercepat pemenuhan energy untuk ayam. Untuk ayam pejantan, pakan yang diberikan berupa BR 1 dengan kadar protein 20- 22%. Kadar protein yang tinggi sangat dibutuhkan oleh DOC dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan juga peningkatan kesehatan ternak. 

BAB III 
HASIL PRAKTIKUM 
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum dilaksanakan pada: Kunjungan pertama : Hari/tanggal : Kamis, 26 September 2018 Pukul : 10:00-11:00 WITA Tempat : Dusun Gontoran Daya, Desa Gontoran kec.Lingsar Kab. Lombok Barat. Kunjungan kedua : Hari/tanggal : Minggu, 29 September 2018 Pukul : 09:00-11:00 Tempat : Dusun Gontoran Daya, Desa Gontoran kec.Lingsar Kab. Lombok Barat. 

3.2 Identitas Peternak
 1. Nama : Bapak. Muhaimin
2. Alamat : Dusun Gontoran Daya, Desa Gontoran kec.Lingsar Kab. Lombok Barat
3. Umur : 35 Tahun
4.Pendidikan : SMA
5. Pengalaman beternak : 5 tahun, awalnya bapak irfan memelihara ayam arab kemudian pindah ke ayam pejantan 6. jumlah ayam pejantan : yang dipelihara oleh pak irfan sebanyak 1000 ekor. 

3.3 Sistem Pemeliharaan
 Sistem pemeliharaan ayam pejantan menggunakan sistem pemeliharan intensif. 

3.4 Sistem Perkandangan Dalam beternak ayam pejantan hal utama yang harus diperhatikan adalah kandang. Karena kandang merupakan tempat tinggal bagi unggas agar terlindung dari cuaca atau perubahan iklim dan gangguan lainya. Kandang juga harus dibuat sesuai dengan kondisi biologis ayam factor teknis dan factor ekonomis. Dalam pembangunan kandang ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yaitu :
 a) konstruksi atap  Konstruksi Atap kandang Dilihat dari bentuk kandang ayam pejantan yang digunakan adalah atap model bentuk semimonitor berbahan seng. 
Gambar 
1.2 Atap kandang
b) Lantai Kandang Lantai kandang dari triplek yang di Alaskan dengan sekam
 Lokasi Kandang Lokasi kandang untuk ayam pejantan sudah memperhatikan aspek kecuali lokasi kandang masih dekat dari pemukiman penduduk, seperti: - Terpapar sinar matahari - Lokasi kandang lebih tinggi dari tanah sekitar - Sumber air bersih dan listrik tidak terhambat.
 g) Kontruksi dinding Kontruksi dinding yang digunakan merupakan tipe dinding terbuka semua sisi (Opened House). Dengan bahan utama dinding yaitu dari kawat dan bertirai dari terpal.
 h) Struktur dan kondisi tanah Tanah padat dan datar i) Peralatan kandang Kandang ayam pejantan dilengkapi dengan peralatan seperti:  Tempat pakan  Tempat minum  Alat penerangan (Lampu)  Peralatan Sanitasi (sekop,cangkul,ember,spray) pemanas kandang Menggunakan lampu sebagai pemanas sebanyak 3 buah perkandang 

3.5 Pakan Pakan merupakan Campuran berbagai macam bahan organik yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi ternak. a) Bahan pakan Bahan-bahan pakan yang digunakan dalam ayam pejantan adalah: menggunankan pakan BR1
 b) Kebutuhan dan pemberian pakan Kebutuhan pakan untuk ayam pejantan yang masih DOC yaitu pada umur 1-7 hari diberikan BR1 starter 7 gr/ hari/ekor. Semakin meningkat umur ayam maka semakin meningkat pula jumlah pakan yang dibutuhkan. 

3.6 Pengendalian Penyakit Dalam memelihara ternak unggas seperti ayam pejantan ada berbagai macam penyakit yang dapat terjadi pada ayam pejantan baik penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri maupun parasit. Penyakit juga dipengaruhi oleh iklim dan cuaca , kebersihan kandang, dan juga kesalahan dalam penyusunan ransum. penyakit yang pernah terjadi padaayam pejantan termasuk pencegahan dan pengendalianya adalah sebagai berikut. 
a. Snot Dilihat dari gejala penyakit yang dijelaskan oleh peternak ayam pejantan, untuk penyakit snot gejala yang umum sering terlihat adalah keluarnya cairan dari hidung dan bersin bersin Untuk pengobatan penyakit tersebut peternak mengobati deng an tremizinl dan dosipet. Dan untuk pencegahan biasanya ayam yang menjukkan gejala penyakit dipisahkan kekandang isolasi , menjaga sanitasi kandang. 

3.6.1 Vaksin dan obat-obatan 
A. Vaksinasi Untuk mencegah timbulnya penyakit pada ayam perlunya memberikan vaksin. Dengan pemberian vaksin daya tahan tubuh ayam akan meningkat. Dengan daya tahan tubuh yang kuat maka penyakit akan sulit untuk menyerang ternak unggas seperti ayam pejantan. Peternak selama masa pemeliharaan sampai panen dengan waktu 36 hari melakukan tiga kali vaksinasi yaitu vaksin ND tetes, gumboro dan vaksin ND dicampur dengan air minum. pada umur 0-10 hari dilakukan vaksin ND tetes, dan pada umur 12-21 hari pemberian vaksin Gumboro dan ND pada umur 22 hari melalui air minum. Sebelum pemberian ternak dipuasakan terlebih dahulu selama 2-3 jam.
 A. Obat-obatan Obat-obatan sangat penting bagi peternak baik untuk mengobati, mencegah atau membersihkan alat dan lain sebagainya. Adapun obat-obatan, vitamin dan desinfektan yang sering dipakai oleh peternak ayam Pejantan adalah sebagai berikut:
 Trimizin  Dosipet B. Vitamin Vitamin yang sering dipakai oleh peternak ayam arab adalah sebagai berikut:  Vita Chicks  Vita Stress 
 BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan 
Dimana ayan pejantan merupakan ayam afkir/ limbah sortilan dari hasil produksi jenis ayam petelur dari sebelum tahun 1980 an. 


 DAFTAR PUSTAKA Adjid, R.M.A. Damayanti, R. Hamid, H. Sjafriati, T. dan Darminto. 2002. Penyakit Marek Pada Ayam: I. Etiologi, Patogenesis Dan Pengendalian Penyakit. WARTAZOA Vol. 12 No. 2. Balai Penelitian Veteriner. Bogor. Bambang. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ayam. Yogyakarta : Kanisius. Damayanti, R dan Hamid, H. 2002. Penyakit Marek pada Ayam: II. Aspek Klinis, Patologis dan Diagnosis. WARTAZOA Vol. 12 No. 2. Balai Penelitian Veteriner. Bogor. Ginting, Ng. dan B.P.A. Radjaguguk. 1980. Data tentang penyakit Marek di Indonesia. Bulletin LPPH 19:33- 41. Huminto, H., B.P. Priosoeyanto, I.W.T. Wibawan, D.R. Agungpriyono, E. Harlina, dan S. Fatimah. 2000. Kasus diagnostik penyakit marek pada ayam. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian Peternakan, Bogor. Hlm 543-546. Payne, L.N. 1985. Marek’s Disease: Scientific Basis and Methods of Control. Martinus Nijhoff Pub. Boston. Dordrecht. Lancaster. Payne, L.N. dan K. Venugopal. 2000. Neoplastic diseases: Marek’s disease, avian leucosis and reticuloendotheliosis. Rev. Sci. Tech.off Int. Epiz. 19(2):544-564. Shane, M.S. 1998. Buku Pedoman Penyakit Unggas. American Soybean Association. pp.66-69. Tabbu., C.R. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya, Volume 1. Kanisius. Yogyakarta. Hal. 142 –

Friday, November 23, 2018

Inilah Manfaat bawang putih yang kita tidak ketahui



  kita tau bahwa "MANFAAT BAWANG PUTIH" bahan sebagai bumbu masak tapi selain itu bawang
putih juga mempunyai senyawa aktif yang ampuh utuk menangkal beberapa jenis
penyakit yang mematikan.
Berbagai macam cara mengolah bawang putih tapi lebih baik anda memakan
bawang putih mentah tanpa dimasak atau diolah.
Maka mengkosumsi bawang putih mentah menjamin segala nutrisi yang
terkandung dalam bawang putih tidak hilang, manfaat yang anda rasakan rutin
mengkonsumsi bawang putih sebagaiberikut.

1. Mencegah tekanan darah tinggi dan melancarkan peredaran darah.
Kandungan polisufida dalam bawang putih terbukti ampuh dalam
mengendalikan tekanan darah bagi penderita hipertensi atau darah
tinggi, polisufida akan membantu melegakan dan membuka pembuluh

darah supaya tidak mendapatkan tekanan terlalu besar sehingga dapat
melancarkan peredaran darah, jika anda rutin mengkosumsi bawang
putih selama 3 bulan dapat menurunkan tekanan darah hingga 10 mmHg.

2. Meurunkan resiko kanker pd tubuh.
Senyawa yang terkandung dalam bawang putih dapat mencegah
pembentukan sel kanker dalam tubuh, menurut nasional cancer institute
di amerika, senyawa sulfur bioaktif dapat melindungi tubuh dari serangan
kanker dan senyawa sulfur bioaktif berfungsi untuk memperbaiki sel
tubuh yang rusak dari zat karsinogen, dan menghambat penyebaran sel
yang tidak sehat bagi tubuh. Bawang putih mentah untuk membunuh
atau mengurangi berbagai jenis penyakit kanker.

3. Menurunkan kadar kolestror yang tinggi
Mengkosumsi setidaknya 10 gram bawang putih mentah setiap hari
selama dua bulan berhasi membantu menurunkan kadar kolestrol yang
cukup banyak, pakar peneliti di rafsanjan university of medical sciences
juga menguak bawah makan bawang putih mentah mampu
meningkatkan kadar kolestror baik bahkan menurunkan kadar kolestror
jahat dalam tubuh. Menurut peniliti mengkosumsi 10 gram bawang putih
sealama 24 hari secara teratur.

4. Mencegah penyakit jantung mematikan
Bawang putih mentah bisa membantu mengurangi penumpukan plak
pada aliran arteri koroner , yaitu pembuluh darah yang memompa darah
ke jantung , sehingga kabar baik untuk penderita penyakit jantung dan
sistem metabolisme sebuah penilitan yang diterbitkan dalam the journal
of nutrition, bahwa pada penilitian tersebut diungkapkan mengkonsumsi
bawang putih secara teratur dapat mengurangi plak arteri koroner
pembuluh darah yang memompa darah ke tubuh sehingga baik untuk
penderita penyakit jantung.

Itulah berbagai macam kasiat bawang putih bagi tubuh, anda dapat
mencari infomasi di artikel lain