Saturday, November 24, 2018

Cara pembuatan pakan konsentrat dari limbah pertanian

KATA PENGANTAR
      Puji syukur kepada tuhan yang maha esa  atas segala rahmatnya  sehingga laporan ini dapat tersusun hingga selesai, tida lupa kami juga mengucapkan terimaksi banyak atas bantuan ari pihak yang telah berkontrobusi dengan memberikan sumbangna baik materi maupun pikirannya.
     Dan harapan kami semoga laporan ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman  bagi para pembaca, untuk kedepanya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi laporan agar menjadi lebih baik lagi.
    Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalamankami, kami yang masih banyak kekurangan dalam laporan ini, oleh karna itu kami sangat mengharapkan keritik dan saran yang membangu  dari pembaca demikesempurnaan laporan ini. 



















BAB I

   PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Salah satu ternak yang cukup berpotensi sebagai sumber pupuk organik adalah sapi. Seekor sapi mampu menghasilkan kotoran padat dan cair sebanyak 23,6 kg/hari dan 9,1 kg/hari. Berdasarkan hasil penelitian, setiap petani rata-rata memiliki 6 – 7 ekor. Rata-rata setiap ekor ternak memerlukan pakan hijau segar 5,35 kg/hari atau 33,3 kg/peternak. Berdasarkan hasil perhitungan, dari jumlah pakan yang dikonsumsi tersebut 4 kg akan dikeluarkan sebagai feses (berat kering feses 45%) per hari per 6 ekor sapi. Selain itu sisa pakan hijauan yang terbuang berkisar 40 – 50% atau sekitar 14,2 kg. Dengan demikian, feses dan sisa hijauan yang dapat dikumpulkan setiap hari sebagai bahan pupuk kandang mencapai 18,2 kg untuk 6 ekor sapi (Setiawan, 2002).
Menurut Prihandini dan purwanto (2007), kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang. Proses dan pemanfaatan kompos dirasa masih perlu ditingkatkan agar dapat dimanfaatkan secara efektif, menambah pendapatan peternak dan mengatasi pencemaran lingkungan.
Kotoran sapi yang tersusun dari feses, urin, dan sisa pakan mengandung nitrogen yang lebih tinggi dari pada yang hanya berasal dari feses. Jumlah nitrogen yang dapat diperoleh dari kotoran sapi dengan total bobot badan ± l20 kg (6 ekor sapi dewasa) dengan periode pengumpulan kotoran selama tiga bulan sekali mencapai 7,4 kg. Jumlah ini dapat disetarakan dengan 16,2 kg urea (46 % nitrogen) (Setiawan, 2002).
Menurut pendapat Rahayu et a1l., (2007), kotoran yang baru dihasilkan sapi tidak dapat langsung diberikan sebagai pupuk tanaman, tetapi harus mengalami proses pengomposan terlebih dahulu. Beberapa alasan mengapa bahan organik seperti kotoran sapi perlu dikomposkan sebelum dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman antara lain adalah: 
1) bila tanah mengandung cukup udara dan air, penguraian bahan organik berlangsung cepat sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
2) penguraian bahan segar hanya sedikit sekali memasok humus dan unsur hara ke dalam tanah
3) struktur bahan organik segar sangat kasar dan daya ikatnya terhadap air kecil, sehingga bila langsung dibenamkan akan mengakibatkan tanah menjadi sangat remah
4) kotoran sapi tidak selalu tersedia pada saat keperluan, sehingga pembuatan kompos merupakan cara penyimpanan bahan organik sebelum digunakan sebagai pupuk.
Menurut Prihandini & Purwanto (2007) proses pengomposan adalah proses menurunkan C/N bahan organik hingga sama dengan C/N tanah (< 20). Selama proses pengomposan, terjadi perubahan unsur kimia yaitu : 1) karbohidrat, selulosa, hemiselulosa, lemak dan lilin menjadi CO2 dan H2O, 2) penguraian senyawa organik menjadi senyawa yang dapat diserap tanarnan.
Menurut Indriani (2012), bahan yang berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses pengomposannya karena semakin luas bahan yang tersentuh dengan bakteri. Oleh karena itu untuk mempercepat proses tersebut ukuran, bahan perlu diperkecil dengan cara dipotong atau dicacah. Pada dekomposisi aerob, oksigen harus cukup tersedia di dalam tumpukan. Apabila kekurangan oksigen, proses dekomposisi tidak dapat berjalan. Agar tidak kekurangan oksigen, tumpukan kompos harus dibalik minimum seminggu sekali.
Menurut pendapat Murbandono (2000), kelembaban di dalam timbunan kompos harus dijaga, karena kelembaban yang tinggi (bahan dalam keadaan becek) akan mengakibatkan volume udara menjadi berkurang. Semakin basah timbunan bahan maka kegiatan mengaduk harus makin sering dilakukan. Dengan demikian, volume udara terjaga stabilitasnya dan pembiakan bakteri anaerob bisa dicegah. Menjaga kestabilan suhu pada suhu ideal 40 - 500C amat penting dalam pembuatan kompos. Suhu yang kurang akan menyebabkan bakteri pengurai tidak bisa berkembangbiak atau bekerja secara wajar. Suhu yang terlalu tinggi bisa membunuh bakteri pengurai. Adapun kondisi yang kekurangan udara dapat memacu perrumbuhan bakteri anaerob.












1.2.      Tujuan 
1.            Dapat mengetahui proses pembuatan kompos dari kotoran sapi di Kelompok Tani 
2.            Dapat mengembangkan materi-materi dasar yang telah dipelajari dari perkuliahan

1.3.      Manfaat
Adapun manfaat di laksanakan Praktek Kerja Lapang ini adalah:
1.            Meningkatkan kualitas mahasiswa dalam mempelajari teknik pembuatan kompos kotoran sapi dengan praktek langsung dilapangan
2.            Mahasiswa mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh selama perkuliahan
3.            Menciptakan hubungan social dan interaksi positif antara mahasiswa dengan Kelompok Tani 














BAB  II
MATERI DAN METODE PRAKTIKUM
Waktu dan tempat praktikum
          Praktikum pengolahan limbah dilaksanakan pada hari kamis tanggal 29 maret 2018,pukul 13:00-selesai,dan kemudian di lanjutankan dengan melakukan pengamatan pertama pada hari kamis tanggal  5 april 2018 pukul 10:30-selesai,dan pada hari kamis berikut nya pada tangal  12 april 2018 pukul 10:30-selesai.praktikum ini dilaksakan di teaching farm universitas mataram yang berada di desa lingsar kec lingsar kab.lombok barat.
Materi praktikum
1. Alat Dan Bahan

a. Alat Praktikum
Ember
Sekop
Karung
Timbangan
Archo

b. Bahan Praktikum
feses sapi sebanyak 55% atau 27,5 kg
sisa pakan sebanyak 40% atau 20 kg
kapur sebanyak 4,5% atau 2,45 kg
EM-4 sebanyak 0,01% atau 5 ml
Molases sebanyak 0,09% ataau 45 ml

Metode Praktikum

Pembuatan pupuk organik
siapkan alat dan bahan
hitung masing-masing bahan yang akan digunakan(kg)
timbang semua bahan yang akan digunakan(feses sapi,sisa pakan,kapur,EM-4 dan molases)
setelah semua bahan sudah ditimbang kemudian campur feses dengan sisa pakan kemudian taburkan kapur sampai merata
campur EM-4,molases dan air secukup nya
selanjut nya percikan larutan diatas feses sapi yang sudah bercampur dengan sisa pakan dan kapur
terakhir aduk sampai benar-benar rata,dan campuran tersebut ditutup rapat jangan sampai ada udara yang masuk



BAB III
HASIL DAN PEMBAHSAN
HASIL PRAKTIKUM

Hasil pembuatan pupuk organik
Penyimpanan setalah 1 minggu sbb :
No Kriteria Keterangan
1 Aroma Berbau khas kotoran sapi,tetapi tidak berbau menyengat
2 Warna Hitam kecoklatan
3 Suhu Sedikit panas saat dibuka 
4 tekstur Lembab,sedikit berjamur,dan berembun

Penyimpanan setelah 2 minggu sbb :
No Kriteria Keterangan
1 Aroma Berbau khas kotoran sapi,tetapi tidak menyengat atau keras seperti pada minggu pertama
2 Warna Coklat
3 Suhu Tidak terlalu panas
4 Tekstur Lembab,dan sedikit berjamur

Penyimpanan setelah 3 minggu sbb :
No Kriteria Keterangan
1 Aroma Sudah tidak berbau kotoran sapi lagi,melainkan berbau seperti tanah
2 Warna Coklat kehitaman
3 Suhu Tidak panas
4 Tekstur Lembab,lapuk dan gersang









Pembahasan Hasil Pratikum
     Pupuk organik adalah pupu yang tersusun dari materi mahluk yang hidup yamg diolah melalui proses pembusukan (dekompesisi) oleh bakteri penguraian seperti pelapukan sisa sisa tanaman, hewan dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat dan cair yang digunkan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologis tanah. Pupuk organik akan dapat banyak memberikan keuntungan karna bahan dasar pupuk organik berasal dari limbah pertanian seperti jerami dan sekam, sekam padi kulit kacang tanah, ampas tebu,belotong,batang jagung dan bahan hijaun lainya. Sedangkan kotoran ternak yang banyak dimanfaatkan adalah peses sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan babi.
Dari hasil tabel diatas dengan pembahasan pembuatan pupuk organik beberapakali mengamati hasilnya 3 kali pengamatan, hasil pengamatan pertama  ditabel tersebut kami mendapatkan hasil dengan penyimpanan 1 minggu dan hasilnya
Aroma  : berbau khas kotoran tapi tidak terlalu menyengat
Warna : hitam kecolatan
Suhu   : panas saat dibuka ( tidak terlalu panas)
Tekstur : lembab,sedikit berjamur
Hasil inilah yang kami dapatkan dari pengamatan minggu pertama
Dari hasil tabel 1 diatas  untuk minggu yang kedua atau penimpananyang kedua kami mendapatkan hasil
Aroma : berbau khas kotoran tapi  tidak menyengat seperti minggu yang pertama
Warna : coklat
Suhu : tidak terlalu panas
Tekstur :  lembab dan sedikit berjamur
Hasil inilah yang kami dapatkan dari minggu kedua
Dan  hasil untuk minggu ke tiga  kami mendapatkan hasil 
Aroma : berbau khas pupuk tidak berbau khas kotoran
Warna : coklat kehitaman
Suhu : tidak paanas
Tekstur : tidak mengumpal dan lembut




BAB IV

 PENUTUP

       Kesimpulan
Kotoran sapi yang tersusun dari feses dan urin adalah sumber pupuk organik yang cukup berpotensi. Namun dalam penggunaannya tidak dapat langsung diberikan pada tanaman, tetapi harus mengalami proses pengomposan terlebih dahulu. Dimana pengomposan adalah suatu proses biologis dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah material organik seperti kotoran ternak, sampah, daun, kertas, dan sisa makanan menjadi material seperti tanah yang disebut kompos. Bahan yang terbentuk mempunyai berat volume yang lebih rendah dari pada bahan dasarnya, stabil, dekomposisi lambat dan sumber pupuk organik.
Dalam proses pengomposan ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, antara lain bahan baku, ukuran partikel, aerasi, porositas, kelembaban, suhu dan pH. Selain itu, teknologi pengomposan juga perlu dilakukan agar proses pengomposan dapat berjalan lebih cepat, lebih baik dan menghasilkan produk kompos yang berkualitas baik.

6.2.       Saran
Proses pengomposan sebaiknya bahan diendapkan hingga mencapai kadar air yang cukup rendah dan dalam pencampuran bahan-bahan harus benar-benar rata dengan diiringi pembalikan yang teratur. Selain itu, tumpukan kompos yang terlalu tebal juga merupakan penyebab lamanya proses pematangan di tambah lagi keadaan rumah kompos yang kurang baik sehingga bila turun hujan air masuk kedalam tumpukan kompos, maka dengan itu renovasi rumah kompos sebaiknya dilakukan.












No comments:

Post a Comment