Saturday, November 24, 2018

Praktikum tentang sapi bunting

LAPORAN
MANAJEMEN KESEHATAN TERNAK RUMINANSIA
SAPI BUNTING



NAMA : Noval alfarizi
NIM : B0D.016.040


D3  AGRIBISNIS KONSENTRASI KESWAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan praktikum ini tepat pada waktunya. Terimakasih kami ucapkan kepada pembina pelajaran MANAJEMEN KESEHATAN TERNAK RUMINANSIA Drh Baiq Erni Nurhidayati,M.Si yang telah membantu kami selama praktikum dan pembelajaran.Semoga penyusunan laporan ini dapat memenuhi harapan kita semua dan bermanfaat sehingga menambah ilmu pengetahuan. Jika ada salah dalam penyusunan laporan ini kami mohon agar memberikan kritik agar penyusunan laporan selanjutnya lebih baik lagi.




Mataram, 25 oktober  2018







BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Periode kebuntingan dimulai dengan pembuahan dan berakhir dengan kelahiran anak yang hidup. Peleburan spermatozoa dengan ovum mengawali reaksi kimia dan fisika yang majemuk, bermula dari sebuah sel tunggal, yang mengalami peristiwa pembelahan diri yang berantai dan terus menerus selama hidup individu tersebut tetapi berbeda dalam kadar dan derajatnya sewaktu hewan menjadi dewasa dan menjadi tua. Sesudah pembuahan, yang mengembalikan jumlah kromosom yang sempurna, pembelahan sel selanjutnya bersifat mitotik sehingga anak-anak sel hasil pembelahannya mempunyai kromosom yang sama dengan induk selnya. Peristiwa ini berlangsung sampai hewan menghasilkan sel kelamin (Marawali, 2010).
Pertumbuhan dan perkembangan individu baru selama kebuntingan merupakan hasil dari perbanyakan jumlah sel, pertumbuhan, p  erubahan susunan serta fungsi sel. Peristiwa tadi mempengaruhi perubahan-perubahan tertentu, beberapa di antaranya merupakan ciri dari tahap perkembangannya. Meskipun perkembangan anak dalam kandungan berlangsung terus menerus, namun kebuntuingan kadang-kadang dinyatakan terdiri dari 3 tahap yaitu periode ovum, periode embrio dan periode Fetus (Marawali, 2010).
Berdasarkan perihal tersebut maka dilakukanlah praktikum ini agar mahasiswa dapat mengetahui bagaimana tata cara dalam melakukan Palpasi rektal atau mendeteksi kebuntingan dengan baik dan benar pada ternak khususnya pada sapi.
1.2   Tujuan
Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah untuk mengetahui perkembangan kebuntingan pada sapi betina dan hormon-hrmon yang berperan saat kebuntingan.
1.3. Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini dapat menjadi salah satu sumber bacaan mengenai perkembangan kebuntingan pada sapi dan hormon-hormon apa saja yang berperan.


BAB II 
TINJAUAN PUSTAKA

Kebuntingan berarti keadaan dimana anak sedang berkembang di dalam Uterus seekor hewan betina. Suatu interval waktu, yang disebut periode kebuntingan (Gestasi), dimulai dari saat pembuahan (Fertilisasi) Ovum, sampai lahirnya anak. Hal ini mencakup Fertilisasi, atau persatuan antara Ovum dan Sperma. Nidasi atau Implantasi, atau perkembangan membran Fetus dan berlanjut ke pertumbuhan Fetus (Frandson, 2013).
Pertumbuhan makhluk baru yang terbentuk sebagai hasil pembuahan Ovum oleh Spermatozoa dapat dibagi menjadi 3 periode, yaitu: periode Ovum, periode Embrio dan periode Fetus. Periode  Ovum adalah periode yang dimulai dari Fertilisasi sampai Implantasi, sedang periode Embrio dimulai dari Implantasi sampai saat dimulainya pembentukan alat-alat tubuh bagian dalam. Periode ini disambung oleh periode Fetus. Jadi periode Fetus adalah periode yang terakhir; dimulai dari terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam, terbentuknya Ekstremitas, sampai lahir. Dari sejak Fertilisasi, Implantasi sampai terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam disebut periode Embrio; selanjutnya periode Fetus. Seluruh penghidupan makhluk baru dalam Uterus disebut periode Embrio (Partodihardjo, 2011).
Selang empat hari sesudah Ovum dibuahi Zigot melewati tuba Falopi menuju ke Uterus dimana ia bergerak bebas melayang selama 8-9 hari. Kebuntingan tahap pertama ini disebut periode Ovum. Selama itu Zigot memperoleh makanannya dari bekal yang dibawa oleh ovum dan menyerap makanan yang berada di Tuba falopi dan Uterus. Zigot berekembang dari sebuah sel menjadi beberapa sel, sambil sedikit demi sedikit membentuk semacam bola yang berlubang di dalamnya dan disebut Blastula (Hunter, 2010).




BAB III
METODE PRAKTIKUM
2.1 waktu dan tempat
A. Waktu dan tempat
Lokasi  : jl sandik, desa tato, batu layar Lombok barat
Waktu dan tempat,  jam 10-selesai pada tanggal 25 oktober 2018
B. Alat
Spet
Kandang jepit
C. Bahan
Vitamin B kompleks
D. Metode praktikum
Bawa sapi ke kandang jepit lalu suntikan vitamin B kompleks pada bagian leher dengan dosis 5ml









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1  Hasil
Ternak
Umur sapi :  3 tahun
Umur kebuntingan : 8 bulan
Jenis sapi :
Kasus : kebuntingan
( gambar sapi bunting)

3.2  Pembahasan
a) Kebuntingan
Satu periode kebuntingan adalah periode dari mulai terjadinya fertilisasi sampai terjadinya kelahiran normal (Soebandi, 1981) sedangkan menurut Frandson (1992) menyatakan kebuntingan berarti keadaan anak sedang berkembang didalam uterus seekor hewan. Dalam penghidupan peternak,periode kebuntingan pada umumnya dihitung mulai dari perkawinan yang terakhir sampai terjadinya kelahiran anak secara normal.
Periode kebuntingan dimulai dengan pembuahan dan berakhir dengan kelahiran anak yang hidup. Peleburan spermatozoa dengan ovum mengawali reaksi kimia dan fisika yang majemuk, bermula dari sebuah sel tunggal yang mengalami peristwa pembelahan diri yang berantai dan terus menerus selama hidup individu tersebut. Tetapi berbeda dalam keadaan dan derajatnya sewaktu hewan itu menjadi dewasa dan menjadi tua. Setelah pembuahan , yang mengembalikan jumlah kromosom yang sempurna, pembelahan sel selanjutnya bersifat mitotik sehingga anak-anak sel hasil pembelahannya mempunyai kromosom yang sama dengan induk selnya. Peristiwa ini berlangsung sampai hewan menghasilkan sel kelamin.
Pertumbuhan makhluk baru terbentuk sebagai hasil pembuahan ovum oleh spermatozoa dapat dibagi menjadi 3 periode, yaitu: periode ovum,periode embrio dan periode fetus. Periode ovum dimulai dari terjadinya fertilisasi sampai terjadinya implantasi,sedang periode embrio dimulai dari implantasi sampai saat dimulainya pembentukan alat alat tubuh bagian dalam. Periode ini disambung oleh periode fetus. Lamanya periode kebuntingan untuk tiap spesies berbeda-beda perbedaan tersebut disebabkan faktor genetik, dan menurut beberapa ahli yaitu;
Menurut Frandsion (1992) menyatakan bahwa Periode kebuntingan pada pada kuda 336 hari atau sekitar sebelas bulan; sapi 282 hari atau sembilan bulan lebih sedikit; domba 150 hari atau 5 bulan; babi 114 hari atau 3 bulan 3 minggu dan 3 hari dan anjing 63 hari atau sekitar 2 bulan.
Menurut Salisbury (1985) periode kebuntingan pada semua bangsa sapi perah berlangsung 278-284 hari kecuali brown swiss rata-rata 190 hari.
Perubahan alat kelamin betina selama kebuntingan berlangsung
Menurut Partodiharjo (1982) hewan yang mengalami masa kebuntingan akan menunjukan perubahan bagian-bagian tertentu sebagai berikut:
1. Vulva dan vagina
Setelah kebuntingan berumur 6 sampai 7 bualan pada sapi dara akan terlihat adanya edema pada vulvanya. Semakin tua buntingnya semakin jelas edema vulva ini. Pada sapi yang telah beranak, edema vulva baru akan terlihat setelah kebuntingan mencapai 8,5 sampai 9 bulan.
2. Serviks
Segera setelah terjadi fertilisasi perubahan terjadi pada kelenjar-kelenjar serviks. Kripta-kripta menghasilkan lendir yang kental semalin tua umur kebuntingan maka semakin kental lendir tersebut.
3. Uterus
Perubahan pada uterus yang pertama terjadinya vaskularisasi pada endomertium, terbentuk lebih banyak kelenjar endometrium, sedangkan kelenjar yang telah ada tumbuh lebih panjang dan berkelok-kelok seperti spiral.
4. Cairan Amnion dan Allantois
Volume cairan amnion dan allantois selama kebuntingan juga mengalami perubahan. Perubahan yang pertama adalah volumenya, dari sedikit menjadi banyak; kedua dari perbandingannya. Hampir semua spesies, cairan amnion menjadi lebih banyak dari pada volume cairan allantois, tetapi pada akhir kebuntinan cairan allantois menjadi lebih banyak.
5. Perubahan pada ovarium
Setelah ovulasi, terjadilah kawah bekas folikel. Kawah ini segera dipenuhi oleh darah yang dengan cepat membeku yang disebut corpus hemorrhagicum. Pada hari ke 5 sampai ke-6 korpus luteum telah terbentuk.
b) Hormone yang berperan saat kebuntingan.
Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH)
Kadar hormone ini menurut para peneliti lebih tinggi pada saat sapi bunting daripada saat tidak bunting. Lebih tepatnya saat awal kebuntingan kadar hormone ini meningkat. Hormone ini mengalami penurunan dari kelenjar hipofisa disebabkan naiknya kadar esterogen yang menghambat pembentukan hormone tersebut.
GnRH merupakan suatu dekadeptida (10 asam amino) dengan berat molekul 1183 dalton. Hormon ini menstimulasi sekresi follicle stimulating hormon (FSH) dan Lutinizing Hormone (LH) dari hipofisis anterior (Salisbury dan vandemark, 1985). Pemberian GnRH meningkatkan FSH dan LH dalam sirkulasi darah selama 2 sampai 4 jam (Chenault dkk., 1990).
Secara alamiah, terjadinya level tertinggi (surge) LH yang menyebabkan ovulasi merupakan hasil kontrol umpan balik positif dari sekresi estrogen dari folikel yang sedang berkembang. Berikut ini adalah mekanisme kerja GnRH. Hipotalamus akan mensekresi GnRH, kemudian GnRH akan menstimulasi hipofisis anterior untuk mensekresi FSH dan LH. FSH bekerja pada tahap awal perkembangan folikel dan dibutuhkan untuk pembentukan folikel antrum.
FSH dan LH merangsang folikel ovarium untuk mensekresikan estrogen. Menjelang waktu ovulasi konsentrasi hormon estrohen mencapai suatu tingkatan yang cukup tinggi untuk menekan produksi FSH dan dengan pelepasan LH menyebabkan terjadinya ovulasi dengan menggertak pemecahan dinding folikel dan pelepasan ovum. Setelah ovulasi maka akan terbentuk korpus luteum dan ketika tidak bunting maka PGF2α dari uterus akan melisiskan korpus luteum. Tetapi jika terjadi kebuntingan maka korpus luteum akan terus dipertahankan supaya konsentrasi progesteron tetap tinggi untuk menjaga kebuntingan (Adnan dan Ramdja, 1986).
Esterogen.
Pada awal kebuntingan hormone ini sedikit kemudian kadarnya mulai naik pada saat umur kebuntintingan mulai tua. Pada usia kebuntingan 4 bulan akhir sapi akan mengekskresikan 10 X lipat hormone esterogon didalam air seninya dibanding sesudah melahirkan.
Progesterone.
Hormone ini mempunyai peranan palaing penting dan dominant dalam berperan mempertahankan kebuntingan. Kadar hormone yang meningkat menyebabkan berhentinya kerja hormone lain serta menyebabkan berhentinya siklus estrus dengan mencegahnya hormone gonadotrophin-gonadotrophin. Progesteron dihasilkan di corpus luteum dan plasenta. Apabila sekresi hormon ini berhenti pada setia kebuntingan akan berakhir selama beberapa hari.
Progesteron penting selama kebuntingan terutama pada tahap-tahap awal. Apabila dalam uterus tidak terdapat embrio pada hari ke 11 sampai 13 pada babi serta pada hari ke 15 – 17 pada domba, maka PGF2α akan dikeluarkan dari endometrium dan disalurkan melalui pola sirkulasi ke ovarium yang dapat menyebabkan regresinya corpus luteum (Bearden and Fuquay, 2000). Apabila PGF2α diinjeksikan pada awal kebuntingan , maka kebuntingan tersebut akan berakhir.

Progesteron dapat digunakan sebagai test kebuntingan karena CL hadir selama awal kebuntingan pada semua spesies ternak. Level progesteron dapat diukur dalam cairan biologis seperti darah dan susu , kadarnya menurun pada hewan yang tidak bunting. Progesteron rendah pada saat tidak bunting dan tinggi pada hewan yang bunting
Test pada susu lebih dianjurkan dari pada test pada darah, karena kadar
progesteron lebih tinggi dalam susu daripada dalam plasma darah. Lagi pula sample susu mudah didapat saat memerah tanpa menimbulkan stress pada ternaknya. Sample susu ditest menggunakan radio immuno assay (RIA). Sample ini dikoleksi pada hari ke 22 – 24 setelah inseminasi. Teknik koleksi sample bervariasi namun lebih banyak diambil dari pemerahan sore hari. Bahan preservasi seperti potasium dichromate atau mercuris chloride ditambahkan untuk menghindari susu menjadi basi selama transportasi ke laboratorium.
Metoda ini cukup akurat, tetapi relatif mahal, membutuhkan fasilitas laboratorium dan hasilnya harus menunggu beberapa hari. ”Kit” progesteron susu sudah banyak digunakan secara komersial di peternakan-peternakan dan dapat mengatasi problem yang disebabkan oleh penggunaan RIA yaitu antara lain karena keamanan penanganan dan disposal radioaktivnya.. Test dapat dilakukan baik dengan enzyme-linked immuno assay (ELISA) maupun latex aggluination assay.














BAB IV
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Ternak yang mengalami kebuntingan akan memperlihatkan tanda –tanda yang dapat kita lihat secara kasat mata atau pun perubahan organ-organ reproduksi seperti adanya perubahan serviks, uterus, cairan amnion dan allantois serta ovarium.
Metode Pemeriksaan kebuntingan pada ternak ada bermacam-macam dan spesifik bagi ternaknya namun ada satu uji yang dapat digunakan oleh ternak secara umum.
3.2. Saran
Pemberian pakan harus benar karna akan meningkatkan produksi hormon,  karna hormon mengandung zat-zat makanan (karbohidrat, protein, lemak, vitamin).
Infosehat ca-app-pub-8789008695970309/3855418177




1 comment: